Welcome : tanpa nama

Login

Username
Password

Register
Forgot Password
Beranda
·Tentang Aku
·Download
·Web Links
·Tulisan
·Album Foto
Interaktif
·Buku Tamu
·Kirim Artikel
·Kontak Kami
·SMS Kami
Rubrik
·Puisi
·Cerpen
·Essay
·Mahbub Djunaidi
Artikel Terakhir
·Mengenal Ludruk
·Cuci Tangan Sengketa Caleg
·Sumpah Umat Beragama
·Perempuan Berkubang Lumpur Lapindo
·Menakar Kekuasaan Presiden Indonesia
·Iman Masa Kini
·2,5 Persen untuk PMII
New Download
·AuraCMS2.1 (352)
Link Terbaru
·SJ Arifin
[Added: 04-Sep-2009]
·Khudori Soleh
[Added: 17-Mar-2009]
·Robikin Emhas
[Added: 03-Feb-2009]
·Wisata Dunia
[Added: 25-Nov-2008]
·Percetakan Caleg
[Added: 28-Oct-2008]
·Nahdlatut Tujjar
[Added: 28-Oct-2008]
·Geofilsafat
[Added: 03-Sep-2008]
·Nuruddin Asyhadie
[Added: 25-Mar-2008]
·Pelanggar
[Added: 06-Jan-2008]
·Dagang Pos Cyber Media
[Added: 04-Jan-2008]
Tampilkan situs Anda di sini.
Tambah link baru
Browse link
Statistik Situs
Visitors :57746 Org
Hits : 153166 hits
Month : 579 Users
Today : 17 Users
Online : 5 Users
Amazon
Amzon
Bahasa Lain
Pilih bendera English French German Spain Italian Dutch

Russian Portuguese Japanese Korean Arabic Chinese Simplified

Mengenal Ludruk

Senin, 03 Agustus 09 - oleh : Sahl al-Fuad

 Ludruk dikenal sebagai seni pementasan yang melakonkan kehidupan masyarakat umum sehari-hari, legenda, perjuangan tokoh, dan kadang-kadang terkait dengan persoalan politik terkini. Melalui penuturan yang ringan, lepas, dan penuh dengan canda atau humor, plesetan-plesetan, dialog-dialog dalam cerita yang dipentaskan mencerminkan gaya hidup masyarakat Jawa Timur kelompok arek yang terbuka dan setara. Hal ini berbeda dengan seni pementasan ketoprak yang menceritakan kehidupan kerajaan dengan pola tutur bahasa yang disesuaikan dengan tingkat kedudukan kelompok keluarga dan jabatan.

Pementasan seni ludruk biasa dimulai dengan tandakan seperti tari ngremo, atau beskalan putri jika ludruk ala Malangan. Setelah tari ngremo selesai, ludruk dimulai dengan parikan (nembang/ ngidung) yang mirip dengan puisi pantun. Parikan ini biasanya dengan berisi dengan persoalan-persoalan terkini. Seperti parikan terkenal dari cak Durasim, seorang salah satu pemain ludruk terkenal, adalah “Bekupon omahe doro/ Melu Nippon soyo sengsoro” atau ungkapan-ungkapan ringan seperti “ngisor nongko, ono gemake/ ngakune joko, limo anake”. Setelah melantunkan beberapa parikan, tahap selanjutnya adalah memainkan sebuah cerita.

Tiga unsur ludruk tersebut, Ngremo, Parikan, dan Cerita, merupakan satu kesatuan unsur yang tidak bisa dipisahkan. Masing-masing unsur tersebut mempunyai pesan tersendiri. Ngremo merupakan tarian khas Jawa Timur yang dapat diartikan sebagai tari kepahlawanan, sedangkan kidung merupakan nyanyian berbentuk puisi lirik diiringi gamelan khas Jawa yang dibawakan oleh penyanyi pria atau wanita. Kidung ludruk terdiri atas dua bentuk, yaitu syair dan pantun, serta cerita ludruk ditengarai bersumber dari legenda, sejarah, mite, babad, dan cerita-cerita keseharian di masyarakat.

Menurut sejarahnya, awal mula ludruk adalah seni besutan yang ditampilkan di jalan-jalan untuk ditonton orang banyak. Tidak ada bukti sejarah yang jelas tentangkapan dan siapa pencipta seni ludruk pertama kali ini. Ada yang mengatakan bahwa ludruk mulai sejak 1907, tetapi pada tahun1847 Gencke dan T Roorda sudah memasukkan kata Ludruk dalam kamus Javanansch Nederduitssch Woordenboek.

Menurut Hendricus Supriyanto, berdasarkan narasumber yang masih hidup sampai tahun 1988, bahwa ludruk sebagai teater rakyat dimulai tahun 1907, oleh Santik dari desa Ceweng, Kecamatan Goda kabupaten Jombang. Bermula dari kesenian ngamen yang berisi syair syair dan tabuhan sederhana, Santik berteman dengan Pono, dan Amir berkeliling dari desa ke desa. Pono mengenakan pakaian wanita dan wajahnya dirias coret coretan agar tampak lucu. Dari sinilah penonton melahirkan kata “Wong Lorek”. Akibat variasi dalam bahasa maka kata lorek berubah menjadi kata Lerok.

Kegiatan mengamen ini lambat laun menarik perhatian orang-orang yang mempunyai hajatan seperti khitanan dan perkawinan. Kelompok Lerok inipun diundang untuk mengisi hiburan pada acara-acara hajatan yang dipanggungkan. Pada masa-masa 1920 sampai1930-an acara ini dikenal dengan Lerok Besutan yang berasal dari kata “Mbetho Maksud”.

Pementasan Lerok Besutan dimulai dengan memberikan persembahan ke empat penjuru mata angin, lalu dilanjutkan dengan pertunjukan cerita. Pemain utama memakai topi merah Turki, tanpa atau memakai baju putih lengan panjang dan celana stelan warna hitam.

Oleh karena dalam pertunjukan Lerok Besutan ini lebih banyak mengumbar humor, canda, dan badutan, di mana yang peran perempuan dimainkan oleh seorang lelaki, banyak orang menyebutnya Ludruk. Ludruk menurut kamus Javanansch Nederduitssch Woordenboek karya Gencke dan T Roorda (1847), berartiGrappermaker (badutan). Sedangkan menurut WJS Poerwadarminta, Bpe Sastra (1930), Ludruk berarti penari wanita dan badut artinya pelawak. Nama lerok dan ludruk terus berdampingan sejak kemunculan sampai tahun 1955, selanjutnya masyarakat dan seniman pendukungnya cenderung memilih ludruk.

Sezaman dengan masa perjuangan dr Soetomo di bidang politik yang mendirikan Partai Indonesia raya, pada tahun 1933 cak Durasim mendirikan Ludruk Oraganizatie (LO). Ludruk inilah yang merintis pementasan ludruk berlakon dan amat terkenal keberaniannya dalam mengkritik pemerintahan baik Belanda maupun Jepang.

Pada masa perang kemerdekaan, Ludruk telah menjadi bagian dari media "penyemangat" perjuangan masyarakat Jawa Timur khususnya. Contoh cerita-cerita populer adalah :"Sogol Pendekar Sumur Gumuling", "Sarip Tambak Oso", "Kebo Kicak Karang Kejambon", "Sawunggaling", "Branjang Kawat", "Sakerah", "Untung Suropati".

Ludruk pada masa ini berfungsi sebagai hiburan dan alat penerangan kepada rakyat. Ludruk digunakan untuk menyampaikan pesan-pesan persiapan Kemerdekaan, dengan puncaknya peristiwa akibat kidungan Jula Juli yang menjadi legenda di seluruh grup Ludruk di Indonesia yaitu : Bekupon Omahe Doro, Melok Nippon Soyo Sengsoro., cak Durasim dan kawan kawan ditangkap dan dipenjara oleh Jepang.

Pada masa pasca kemerdekaan (1945-1965) ludruk, selain sebagai hiburan, juga digunakan sebagai alat penerangan pembangunan. Ludruk benar-benar mendapatkan tempat di rakyat Jawa Timur. Ada dua grup ludruk yang sangat terkenal saat itu, adalah: Ludruk Marhaen dan Ludruk tresna Enggal.

Popularitas Ludruk Marhaen banyak mengundang perhatian orang, bahkan pernah 16 kali main di Istana Merdeka. Akan tetapi karena dianggap terkait dengan pemberontakan G30/PKI, kelompok Ludruk Marhaen ini dibubarkan.

Sejak jaman dulu, kata Rendra dalam buku “Mempertimbangkan Tradisi” (1984), belum pernah ada raja yang melarang Ludruk atau dagelan, meskipun dalam Ludruk dan dagelan apa saja boleh diucapkan: yang kotor, yang kasar, segala macam kritikan, dan segala macam ejekan. Tidak pernah ada raja dalam wayang yang menjadi marah karena kritikan yang kasar dari Petruk. Demikian pula tak pernah ada lurah, bupati, atau raja yang menjadi marah karena dikritik dengan pedas di dalam Ludruk atau dagelan. Sebab, kalau mereka marah karena kejadian semacam itu, maka rakyat menganggapnya mempunyai roso-risi — digerakkan oleh rasa bersalah, serta bersifat daksura, dan diam-diam rakyat akan menilainya rendah, dan lama-lama mungkin saja membencinya dalam hati. Ludruk mampu menjadikan pertunjukannya sebagai arena pengadilan rakyat simbolik untuk mem-persona non grata-kan figur penguasa yang dianggap tidak memihak masyarakat.

Setelah berkembangnya media elektronik, terutama TV swasta, minat masyarakat untuk mengunjungi panggung pertunjukan Ludruk mulai berkurang. Bahkan untuk saat ini hanya beberapa kelompok/group Ludruk yang masih eksis. Contoh cerita Ludruk adalah seri Ludruk Kartolo yang bisa dikunjungi dihttp://www.pakdenono.com/kartolo.htm. Ludruk Kartolo tersebut menekankan realita kehidupan sosial arus bawah yang disajikan dengan dominasi humor.Tapi jangan terlalu banyak berharap dapat menikmati humornya, jika pemirsa tidak terbiasa dengan dialek yang digunakan.

Ludruk pada masanya, tidak hanya sekadar media hiburan bagi masyarakat, tetapi juga sebagai media propaganda yang mampu mempengaruhi masyarakat, sebelum adanya ketergantungan akan TV dan internet. (dari berbagai sumber)

kirim ke teman | versi cetak

Berita Essay Lainnya

Menakar Kekuasaan Presiden Indonesia
Ekonomi dan Islam
Pesimisme dan Daya Khayal
Kecanggihan ”Lanang” dan Ilusi atas Nilai Kemapanan
Kebudayaan Kemiskinan dan Psikologi Kebahagiaan

Komentar Pengunjung

Ludrukan
Kamis, 24 September 09 - oleh : SJA
dicariin Dewa Angin tuh... buku lodrok buku lodrok


Your Name :
Your Email :
Comment's Title :
Comment :
Security Code : Security Code
Type Code :
Jam
Pencarian
Poll
jika anda diberi kesempatan untuk memimpin sebuah lembaga,

Saya akan terima dengan senang hati
Saya merasa kurang percaya diri meski saya bisa
Saya tidak yakin bisa menjalankan
Saya tidak akan menerima tawaran tersebut
Saya tidak peduli

Pesan Singkat
Sahabat Online
nyambung
online Sahlul
Globatrackr
Kunjungan anda dari negara
yahoo.com
bersama yahoo Yahoo! Personals
Blogvertise
Click Here to Advertise On My Blog
STOP Plagiat
stop plagiatstop-plagiat

Home | About AuraCMS | Album Photo | Recommend | Contact


Powered by AuraCMS v2.1 © 2007,